Kependudukan di Kota Balikpapan

KEPENDUDUKAN

Dalam demografi terdapat tiga fenomena yang saling berkaitan dan merupakan bagian penting dari kependudukan. Ketiga fenomena tersebut adalah besar dan persebaran penduduk (size and population distribution), komposisi penduduk (population composition), dan dinamika penduduk (change in population). Dalam bab ini, ketiga fenomena akan dikemukakan disertai faktor-faktor yang memungkinkan menjadi penyebab dan akibat dari terjadinya fenomena tersebut

3.1              Persebaran Penduduk

Segala sesuatu tentang kependudukan setiap saat bisa berubah  baik dari segi jumlah maupun komposisi. Secara alamiah, penduduk akan terkonsentrasi pada daerah-daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana sosial serta sarana transportasi yang memadai, dan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya akan terdapat penduduk dengan tingkat kepadatan yang rendah.

Penduduk Kota Balikpapan pada tahun 2010 yang berjumlah 552.792 orang tersebar dalam 5 kecamatan dengan persebaran yang kurang seimbang. Kecamatan Balikpapan Selatan yang paling banyak penduduknya yaitu mencapai 34,20 persen dari seluruh penduduk Kota Balikpapan. Hal ini bisa dimaklumi, karena wilayah ini merupakan pusat perekonomian dan pemerintahan. Di samping itu, pembukaan wilayah oleh pengembang secara intensif untuk pemukiman semakin mengukuhkan Balikpapan Selatan sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak.

Sedangkan Balikpapan Timur yang sebagian merupakan daerah pantai dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang masih terbatas merupakan kecamatan dengan penduduk paling sedikit, distribusinya hanya sekitar 9,78 persen dari seluruh penduduk Kota Balikpapan.

Gambar 1. Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan

di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

3.2              Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk merupakan fenomena demografi yang mengelompokkan penduduk berdasarkan aspek tertentu. Secara umum, pengelompokan penduduk dilakukan berdasarkan aspek biologis, sosial, ekonomi, dan geografis. Komponen dalam aspek biologis adalah umur dan jenis kelamin. Komponen sosial terdiri atas tingkat pendidikan, status perkawinan, dan sebagainya. Dalam aspek ekonomi dicakup penduduk yang aktif secara ekonomi, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, dan sebagainya. Sedangkan aspek geografis berdasarkan tempat tinggal. Dalam sub-bab ini akan dikemukakan pengelompokan berdasarkan aspek biologis dan aspek sosial.

Komposisi penduduk menurut aspek biologis, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdiri atas komposisi berdasarkan jenis kelamin dan komposisi berdasarkan umur. Secara keseluruhan rasio jenis kelamin tahun 2010 adalah 111,24 yang berarti dari 100 orang wanita terdapat 111 orang pria. Dengan perkataan lain, jumlah penduduk pria lebih banyak  11 persen dibandingkan jumlah penduduk wanita.

Komposisi penduduk berdasarkan umur mencatat bahwa kelompok usia produktif mencapai 68,24 persen dari seluruh penduduk dan merupakan kelompok terbesar. Proporsi penduduk usia lanjut secara keseluruhan hanya 2,94 persen. Sementara itu, proporsi penduduk usia muda mencapai 28,82 persen. Struktur umur penduduk seperti itu memang merupakan struktur umur yang umum terjadi di Indonesia. Dengan struktur umur seperti itu penduduk Kota Balikpapan digolongkan pada peralihan penduduk muda ke penduduk tua (Intermediate).

Suatu populasi digolongkan penduduk tua (old population) bila proporsi penduduk usia muda <30 persen, penduduk usia dewasa > 60 persen, dan penduduk usia lanjut >10 persen. Sedangkan penduduk muda (young population) adalah bila penduduk usia muda > 40 persen, penduduk usia dewasa < 55 persen, penduduk usia lanjut <5 persen. Penduduk yang berada diantara kedua klasifikasi tersebut disebut penduduk peralihan.

Ketergantungan (Dependency Ratio) secara keseluruhan mencapai 45,54 Ini berarti, bahwa setiap 100 orang produktif menanggung oleh 46 orang tidak produktif. Rasio ketergantungan ini merupakan perbandingan antara penduduk yang tergolong belum/tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun) dan penduduk produktif (15-64 tahun). Rasio ketergantungan anak (Young Dependency Ratio) mencapai 42,22 sedangkan rasio ketergantungan lansia (Old Dependency Ratio) mencapai 4,31.

Dilihat dari aspek sosial, dikemukakan status perkawinan penduduk usia 10 tahun ke atas. Penduduk yang berstatus belum kawin 35,60 persen dari total penduduk berusia diatas 10 tahun. Dirinci menurut jenis kelamin, pria yang berstatus belum kawin 40,69 persen dari seluruh penduduk pria berusia diatas 10 tahun. Sedangkan wanita yang berstatus belum kawin 30,18 persen dari seluruh penduduk wanita yang berusia diatas 10 tahun.

Proporsi penduduk pria yang berstatus kawin mencapai 56,80 persen, angka ini  lebih rendah dibandingkan kategori yang sama pada penduduk wanita yang mencapai 61,25 persen. Sementara itu, penduduk berstatus cerai, baik cerai hidup maupun cerai mati relatif kecil. Penduduk berstatus cerai hidup secara keseluruhan kurang dari dua persen atau sekitar 1,54 persen. Penduduk pria berstatus cerai hidup sebesar 0,85 persen dan penduduk wanita berstatus sama sebesar 2,29 persen. Angka penduduk berstatus cerai hidup ini menunjukkan angka yang cukup jauh berbeda antara pria dan wanita.

Begitu pula halnya dengan angka penduduk berstatus cerai mati, angka yang ditunjukkan oleh penduduk berstatus cerai mati jauh berbeda antara pria dan wanita. Proporsi penduduk berstatus cerai mati pada pria hanya sekitar 1,66 persen, sedangkan proporsi wanita berstatus cerai mati sebesar 6,28 persen. Tampak bahwa proporsi pada wanita sekitar lima kali dari proporsi pria. Ini menunjukkan bahwa pria lebih memilih menikah lagi setelah ditinggal mati pasangannya

Dengan angka di atas dapat diketahui bahwa orang tua tunggal (single parent) pada wanita lebih banyak daripada pria. Hal demikian terjadi diasumsikan karena daya tahan wanita untuk hidup sendiri membesarkan anak-anaknya lebih tinggi daripada daya tahan pria. Selain itu, secara sosio-psikologis kemungkinan seorang wanita untuk menikah setelah ditinggalkan suaminya relatif lebih sulit.

3.3              Dinamika Penduduk

Dinamika penduduk adalah perubahan penduduk, baik pengurangan maupun penambahannya. Faktor yang mempengaruhi dinamika penduduk adalah kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan kepindahan atau migrasi. Dalam pembahasan ini, titik berat pembahasan diutamakan pada indikator fertilitas. Selain itu, dibahas juga tentang keluarga berencana yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas.

Salah satu indikator fertilitas adalah umur perkawinan pertama. Semakin muda seseorang melakukan perkawinan semakin panjang masa reproduksinya sehingga peluang melahirkan semakin besar. Karena resiko melahirkan hanya terjadi pada wanita, maka umur yang diperhitungkan adalah umur wanita pada saat perkawinan pertamanya.

Gambar 2. Wanita 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin

Menurut Umur Perkawinan Pertama di Kota Balikpapan, Tahun 2009

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Perkawinan pertama lebih banyak dilakukan pada kelompok umur diatas 19 tahun. Hal ini sesuai dengan program penurunan fertilitas yang dicanangkan pemerintah dengan menentukan umur (20-25) tahun sesuai umur ideal untuk melaksanakan perkawinan. Bila dilihat polanya tampak bahwa proposi penduduk yang melangsungkan perkawinan pertamanya pada umur 16 tahun atau kurang sekitar 10,71 persen dari seluruh penduduk wanita usia 10 tahun ke atas yang pernah kawin.

Proporsi terbesar perkawinan pertama adalah pada kelompok umur diatas 19-24 tahun yang mencapai 50,38 persen. Sedangkan proporsi penduduk yang melangsungkan perkawinan pertamanya antara umur 17-18 tahun mencapai 18,82 persen.

Penurunan fertilitas juga banyak dipengaruhi oleh adanya program keluarga Berencana (KB). Usaha yang dilakukan pemerintah dengan membentuk badan khusus yang menangani KB tampaknya cukup berhasil. Fertilitas semakin menurun sehingga laju pertumbuhan penduduk pun bisa ditekan. Hal ini sejalan dengan salah satu konsep beyond family planning yang menyatakan bahwa apabila program KB dikelola dengan baik, fertilitas akan dapat diturunkan.

Tingkat keberhasilan KB biasanya tidak hanya diukur dari penurunan fertilitas yang dicapai tetapi juga dari pencapaian target akseptor. Seseorang dikatakan sebagai akseptor KB adalah apabila ia menggunakan salah satu alat/cara KB dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dan bukan karena alasan lain seperti alasan kesehatan, serta harus mengacu pada masa berlaku atau keefektifan dari masing-masing alat/cara KB tersebut.

Tingkat penggunaan alat KB cukup tinggi, tercatat dari 85.271 wanita pernah kawin berumur 15-49 tahun yang pernah menggunakan alat KB sebanyak 73,77 persen. Sedangkan dari 85.271  wanita usia subur yang pernah memakai alat KB, yang sedang memakai alat KB mencapai 49,90 persen dari seluruh wanita usia subur.

Berdasarkan alat atau cara yang digunakan peserta KB aktif, suntikan KB dan Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan, yang keduanya mencapai 72,92 persen dari seluruh akseptor KB. Walaupun termasuk alat kontrasepsi modern, sebenarnya pil mempunyai risiko kegagalan cukup tinggi dibandingkan alat kontrasepsi modern lainnya. Untuk itu, perlu ada upaya untuk mengubah pandangan masyarakat yang lebih menyukai pil sebagai cara ber-KB dan diarahkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang lebih efektif. Namun demikian kemudahan mendapatkannya menjadi pendorong banyak wanita usia subur yang memilih memakai alat kontrasepsi ini.

Metode KB selain pil dan suntik yang penggunanya cukup banyak adalah IUD/AKDR. Proporsi pengguna metode ini adalah 15,60 persen. Selanjutnya metode susuk KB/norplan/inplanon/alwalit penggunanya mencapai 1,64 persen, sedangkan metode KB selain keempat metode tersebut diatas tampaknya kurang diminati oleh para akseptor.


Tabel 3.1. Jumlah Persebaran dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Balikpapan, Tahun 2005-2010 (Jiwa)
Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 2010
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Penduduk 500.406 508.120 515.529 526.963 538.525 552.792
Balikpapan Selatan 168.768 173.040 177.133 180.923 183.858 189.039
Balikpapan Timur 49.010 49.665 49.906 51.311 52.611 54.063
Balikpapan Utara 94.184 94.433 96.103 98.541 102.471 105.667
Balikpapan Tengah 104.810 106.184 106.776 108.056 109.754 112.009
Balikpapan Barat 83.634 84.798 85.611 88.132 89.831 92.014
Penyebaran 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Balikpapan Selatan 33,73 34,05 34,36 34,33 34,14 34,20
Balikpapan Timur 9,79 9,77 9,68 9,74 9,77 9,78
Balikpapan Utara 18,82 18,58 18,64 18,70 19,03 19,12
Balikpapan Tengah 20,94 20,90 20,71 20,51 20,38 20,26
Balikpapan Barat 16,71 16,69 16,61 16,72 16,68 16,64
Kepadatan / Km2 994,25 1.009,58 1.024,30 1.047 1.070 1.098
Balikpapan Selatan 3.519 3.608 3.694 3.773 3.834 3.942
Balikpapan Timur 370 375 377 388 398 409
Balikpapan Utara 712 714 727 746 775 799
Balikpapan Tengah 9.467 9.592 9.645 9.761 9.914 10.118
Balikpapan Barat 464 471 475 475 499 511

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.2. Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Uraian Jumlah (Jiwa) Persentase
(1) (2) (3)
Laki-laki 289.100 52,66
Perempuan 263.692 47,34
Jumlah 552.792 100,00
Sex Ratio 111,24
Anak-anak (0-14 th) 159.295 

 

28,82
Dewasa (15-64 th) 377.231 

 

68,24
Tua/Lanjut (³65 th) 16.266 2,94
Jumlah 100,00
Dependency Ratio 46,54

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.3. Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Status Perkawinan dan
Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Status Perkawinan Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Belum Kawin 104.501 40,69 68.693 30,18 175.333 35,60
Kawin 145.875 56,80 139.411 61,25 289.995 58,94
Cerai Hidup 2.182 0,85 5.212 2,29 7.561 1,54
Cerai Mati 4.264 1,66 14. 6,28 19.097 3,89
Jumlah 256.822 100,00 227.610 100,00 484.432 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.4. Wanita 10 tahun ke atas Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Umur Perkawinan Pertama Jumlah Persentase
(1) (2) (3)
£ 16 15.786 10,71
17 – 18 27.741 18,82
19 – 24 74.267 50,38
³ 25 29.617 20,09
Jumlah 147.411 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.5. Wanita Pernah Kawin Berumur 15-49 Tahun Menurut Pemanfaatan Alat KB di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Pemanfaatan Alat KB Jumlah Persentase
(1) (3) (3)
Sedang Menggunakan Alat KB 58.022 49,90
Tidak Menggunakan Alat KB Lagi 27.249 23,87
Tidak Pernah Menggunakan Alat KB 30.501 26,23
Jumlah 116.272 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 3.6. Wanita Pernah Kawin Berumur 15-49 Tahun Menurut Cara KB yang Digunakan di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Pemanfaatan Alat KB Jumlah Persentase
(1) (3) (2)
MOW/tubektomi 2.135 3,68
MOP/vasektomi 431 0,74
AKDR/IUD/spiral 9.054 15,60
Suntikan KB 17.478 30,13
Susuk KB/norplan/inplanon/alwalit 951 1,64
Pil KB 24.832 42,79
Kondom/karet KB 1.759 3,03
Cara tradisional 1.382 2,39
Jumlah 58.022 100,00 

Sumber : BPS Kota Balikpapan

About these ads
This entry was posted in Kependudukan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s