Image

Aside | Posted on by | Leave a comment

Pola Konsumsi Penduduk Kota Balikpapan 2011

POLA KONSUMSI PANGAN PENDUDUK KOTA BALIKPAPAN 2011

                      Oleh : Agung Nugroho, S.ST.

                    Konsumsi penduduk secara garis besar dibedakan dalam 2 kelompok besar yaitu konsumsi pangan dan konsumsi non pangan. Beberapa ahli mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan penduduk suatu daerah maka persentase konsumsi pangan terhadap total pengeluarannya semakin kecil. Biasanya perubahan atau peningkatan pendapatan masyarakat akan  berpengaruh pada perubahan pola konsumsi walaupun perubahan itu dilakukan tidak secara radikal. Peningkatan pendapatan biasanya akan merubah pola konsumsi pada meningkatnya konsumsi non makanan.

Sementara itu peningkatan pendapatan biasanya juga berpengaruh pada pola konsumsi pangan. Perubahan pola konsumsi pangan cenderung kepada perubahan kualitas dan kuantitas  bahan pangan maupun komposisi bahan makanan yang dikonsumsi. Pemerintah melalui Widia Karya Pangan dan Gizi tahun 2004 memberikan batasan pada pola konsumsi pangan  dengan komposisi yang ideal yaitu konsumsi Kalori sebesar 2200 Kkal perkapita perhari dan Protein seberat 57 gram perkapita perhari. Khusus untuk protein dianjurkan terdiri atas 42 gram protein nabati dan 15 gram protein hewani dengan 9 gramberasal dari protein ikan dan 6 gram berasal dari protein ternak.

Komposisi pangan seperti diatas biasa disebut sebagai Pola Pangan Harapan (PPH) dengan pembagian bahan makanan menjadi 8 kelompok besar bahan makanan yaitu kelompok Padi-padian, Umbi-umbian, Pangan Hewani, Minyak & Lemak, Kacang-kacangan, Buah biji Berminyak, Gula dan Sayur & Buah-buahan . Untuk mengetahui Pola Konsumsi Pangan penduduk, dapat diketahui melalui jumlah penyediaan atau tingkat ketersediaan bahan pangan di suatu wilayah pada waktu tertentu. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa jumlah penawaran bahan pangan mempunyai komposisi dan pola yang sama dengan jumlah permintaan bahan pangan. Tingkat ketersediaan bahan pangan dapat diketahui melalui survei jumlah bahan makanan tersedia pada suatu wilayah yang tergambar dalam sebuah neraca yang disebut Neraca Bahan Makanan (NBM). Dari neraca NBM ini dapat diperoleh gambaran jumlah ketersediaan bahan pangan yang diproduksi sendiri maupun bahan pangan yang didatangkan dari daerah lain, selain itu diketahui pula penyediaan perkapita pertahun, penyediaan perkapita perhari bahan makanan maupun jumlah Kalori, jumlah Protein dan jumlah Lemak perkapita perhari yang dirinci menurut jenis komoditi. Pola konsumsi pangan yang sesuai dengan rekomendasi Pemerintah dengan standar pola pangan harapan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Ketersediaan Kalori Per Kapita Per Hari Kota Balikpapan

        Dibandingkan dengan Standar Ketersediaan Menurut Pola Pangan Harapan  (PPH) Tahun 2011

 

Kelompok

Bahan

Makanan

Standar Ketersediaan

Ketersediaan

Bobot

Menurut PPH

Kota Balikpapan

Kalori

%

Skor

Kalori

%

Skor

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1. Padi-padian

0.5

1,275

50.0

25.0

1.563

54,6

27,3

2. Umbi-umbian

0.5

127

5.0

2.5

125

4,4

2,2

3. Pangan Hewani

2.0

390

15.3

30.6

454

15,9

31,7

4. Minyak & Lemak

1.0

255

10.0

10.0

159

5,6

5,6

5. Kacang-kacangan

2.0

127

5.0

10.0

120

4,2

8,4

6. Buah,Biji Berminyak

0.5

78

3.1

1.5

23

0,8

0,4

7. Gula

0.5

171

6.7

3.4

102

3,6

1,8

8. Sayuran & Buah-buahan

2.0

127

5.0

10.0

316

11,0

22,1

Jumlah

2,550

100.0

92.9

2.862

100,0

99,4

           Sumber : BPS Kota Balikpapan

 berdasarkan pada komposisi pola pangan harapan, kebutuhan konsumsi kalori paling banyak dipenuhi dari kelompok Padi-padian yaitu sebesar 50 persen, selain itu kelompok Pangan Hewani dan Minyak&Lemak juga memberikan kontribusi cukup besar pada penyediaan kalori yaitu sebesar 15 dan 10 persen. Jumlah kalori pada tingkat ketersediaan ditetapkan minimal sebesar 2550 Kkal perkapita perhari dengan besaran nilai skor sebesar 93,0. Nilai skor ditentukan dengan mengalikan persentase kontribusi dengan nilai bobot masing-masing kelompok bahan makanan.

akibat keberhasilan pembangunan ekonomi dan pengaruh budaya global, maka masalah gizi akan lebih mengancam kehidupan penduduk golongan menengah keatas, ancaman tersebut berupa meningkatnya prelevansi penyakit-penyakit dan infeksi.

Pada tingkat ketersediaan kalori penduduk kota Balikpapan, persentase kalori yang berasal dariPadi-padian lebih besar dari jumlah kalori yang dianjurkan yaitu sebesar 54 persen, dengan kuantitas sebesar 1563 Kkal sedangkan jumlah standar kalori adalah sebesar 1275 Kkal, begitu juga untuk kelompok Minyak/Lemak, Gula maupun Sayur/Buah.

Menurut penelitian Soekirman (1991) menyatakan bahwa dengan makin meningkatnya pendapatan dan adanya peralihan gaya hidup sebagian penduduk menyebabkan perubahan pola konsumsi sehingga muncul berbagai penyakit terutama dalam bentuk kegemukan atau obesitas dan kandungan kolesterol dalam darah melebihi batas normal.

Tabel 2. Rata-rata Ketersediaan  Protein Per kapita Per Hari Menurut Sumber Pangan

Nabati dan Hewani, 2007 – 2011

Tahun Nabati % Hewani % Jumlah %

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

PROTEIN (Gram)
2007

64,80

58,26

46,42

41,74

111,22

100,00

2008

63,28

61,89

38,96

38,11

102,24

100,00

2009

69.88

65.63

36.60

34.37

106.48

100.00

2010

71,94

60,53

46,91

39,47

118,86

100,00

2011

60,80

63,62

34,77

36,38

95,56

100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Jumlah ketersediaan protein juga lebih besar dari yang dianjurkan PPH yaitu sebesar 95,56 gram, kondisi ini sangat menguntungkan bagi peningkatan kesehatan masyarakat mengingat peningkatan konsumsi  protein terutama berasal dari  protein nabati sementara peningkatan protein hewani banyak berasal dari protein daging putih yaitu daging yang berasal dari Ikan dan Ayam. (Anast)

Posted in Kependudukan | Leave a comment

KUMPULAN DATA STATISTIK

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Kumpulan data ini dibuat dengan maksud dapat membantu peminat data yang belum dapat dilayani oleh website lain. Data-data yang disajikan diperoleh dari kantor-kantor BPS di beberapa kota.

Bagi yang berminat dapat langsung menghubungi email caknugroho@yahoo.co.id

Posted in Katalog | Leave a comment

Kependudukan di Kota Balikpapan

KEPENDUDUKAN

Dalam demografi terdapat tiga fenomena yang saling berkaitan dan merupakan bagian penting dari kependudukan. Ketiga fenomena tersebut adalah besar dan persebaran penduduk (size and population distribution), komposisi penduduk (population composition), dan dinamika penduduk (change in population). Dalam bab ini, ketiga fenomena akan dikemukakan disertai faktor-faktor yang memungkinkan menjadi penyebab dan akibat dari terjadinya fenomena tersebut

3.1              Persebaran Penduduk

Segala sesuatu tentang kependudukan setiap saat bisa berubah  baik dari segi jumlah maupun komposisi. Secara alamiah, penduduk akan terkonsentrasi pada daerah-daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana sosial serta sarana transportasi yang memadai, dan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya akan terdapat penduduk dengan tingkat kepadatan yang rendah.

Penduduk Kota Balikpapan pada tahun 2010 yang berjumlah 552.792 orang tersebar dalam 5 kecamatan dengan persebaran yang kurang seimbang. Kecamatan Balikpapan Selatan yang paling banyak penduduknya yaitu mencapai 34,20 persen dari seluruh penduduk Kota Balikpapan. Hal ini bisa dimaklumi, karena wilayah ini merupakan pusat perekonomian dan pemerintahan. Di samping itu, pembukaan wilayah oleh pengembang secara intensif untuk pemukiman semakin mengukuhkan Balikpapan Selatan sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak.

Sedangkan Balikpapan Timur yang sebagian merupakan daerah pantai dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang masih terbatas merupakan kecamatan dengan penduduk paling sedikit, distribusinya hanya sekitar 9,78 persen dari seluruh penduduk Kota Balikpapan.

Gambar 1. Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan

di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

3.2              Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk merupakan fenomena demografi yang mengelompokkan penduduk berdasarkan aspek tertentu. Secara umum, pengelompokan penduduk dilakukan berdasarkan aspek biologis, sosial, ekonomi, dan geografis. Komponen dalam aspek biologis adalah umur dan jenis kelamin. Komponen sosial terdiri atas tingkat pendidikan, status perkawinan, dan sebagainya. Dalam aspek ekonomi dicakup penduduk yang aktif secara ekonomi, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, dan sebagainya. Sedangkan aspek geografis berdasarkan tempat tinggal. Dalam sub-bab ini akan dikemukakan pengelompokan berdasarkan aspek biologis dan aspek sosial.

Komposisi penduduk menurut aspek biologis, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdiri atas komposisi berdasarkan jenis kelamin dan komposisi berdasarkan umur. Secara keseluruhan rasio jenis kelamin tahun 2010 adalah 111,24 yang berarti dari 100 orang wanita terdapat 111 orang pria. Dengan perkataan lain, jumlah penduduk pria lebih banyak  11 persen dibandingkan jumlah penduduk wanita.

Komposisi penduduk berdasarkan umur mencatat bahwa kelompok usia produktif mencapai 68,24 persen dari seluruh penduduk dan merupakan kelompok terbesar. Proporsi penduduk usia lanjut secara keseluruhan hanya 2,94 persen. Sementara itu, proporsi penduduk usia muda mencapai 28,82 persen. Struktur umur penduduk seperti itu memang merupakan struktur umur yang umum terjadi di Indonesia. Dengan struktur umur seperti itu penduduk Kota Balikpapan digolongkan pada peralihan penduduk muda ke penduduk tua (Intermediate).

Suatu populasi digolongkan penduduk tua (old population) bila proporsi penduduk usia muda <30 persen, penduduk usia dewasa > 60 persen, dan penduduk usia lanjut >10 persen. Sedangkan penduduk muda (young population) adalah bila penduduk usia muda > 40 persen, penduduk usia dewasa < 55 persen, penduduk usia lanjut <5 persen. Penduduk yang berada diantara kedua klasifikasi tersebut disebut penduduk peralihan.

Ketergantungan (Dependency Ratio) secara keseluruhan mencapai 45,54 Ini berarti, bahwa setiap 100 orang produktif menanggung oleh 46 orang tidak produktif. Rasio ketergantungan ini merupakan perbandingan antara penduduk yang tergolong belum/tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun) dan penduduk produktif (15-64 tahun). Rasio ketergantungan anak (Young Dependency Ratio) mencapai 42,22 sedangkan rasio ketergantungan lansia (Old Dependency Ratio) mencapai 4,31.

Dilihat dari aspek sosial, dikemukakan status perkawinan penduduk usia 10 tahun ke atas. Penduduk yang berstatus belum kawin 35,60 persen dari total penduduk berusia diatas 10 tahun. Dirinci menurut jenis kelamin, pria yang berstatus belum kawin 40,69 persen dari seluruh penduduk pria berusia diatas 10 tahun. Sedangkan wanita yang berstatus belum kawin 30,18 persen dari seluruh penduduk wanita yang berusia diatas 10 tahun.

Proporsi penduduk pria yang berstatus kawin mencapai 56,80 persen, angka ini  lebih rendah dibandingkan kategori yang sama pada penduduk wanita yang mencapai 61,25 persen. Sementara itu, penduduk berstatus cerai, baik cerai hidup maupun cerai mati relatif kecil. Penduduk berstatus cerai hidup secara keseluruhan kurang dari dua persen atau sekitar 1,54 persen. Penduduk pria berstatus cerai hidup sebesar 0,85 persen dan penduduk wanita berstatus sama sebesar 2,29 persen. Angka penduduk berstatus cerai hidup ini menunjukkan angka yang cukup jauh berbeda antara pria dan wanita.

Begitu pula halnya dengan angka penduduk berstatus cerai mati, angka yang ditunjukkan oleh penduduk berstatus cerai mati jauh berbeda antara pria dan wanita. Proporsi penduduk berstatus cerai mati pada pria hanya sekitar 1,66 persen, sedangkan proporsi wanita berstatus cerai mati sebesar 6,28 persen. Tampak bahwa proporsi pada wanita sekitar lima kali dari proporsi pria. Ini menunjukkan bahwa pria lebih memilih menikah lagi setelah ditinggal mati pasangannya

Dengan angka di atas dapat diketahui bahwa orang tua tunggal (single parent) pada wanita lebih banyak daripada pria. Hal demikian terjadi diasumsikan karena daya tahan wanita untuk hidup sendiri membesarkan anak-anaknya lebih tinggi daripada daya tahan pria. Selain itu, secara sosio-psikologis kemungkinan seorang wanita untuk menikah setelah ditinggalkan suaminya relatif lebih sulit.

3.3              Dinamika Penduduk

Dinamika penduduk adalah perubahan penduduk, baik pengurangan maupun penambahannya. Faktor yang mempengaruhi dinamika penduduk adalah kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan kepindahan atau migrasi. Dalam pembahasan ini, titik berat pembahasan diutamakan pada indikator fertilitas. Selain itu, dibahas juga tentang keluarga berencana yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas.

Salah satu indikator fertilitas adalah umur perkawinan pertama. Semakin muda seseorang melakukan perkawinan semakin panjang masa reproduksinya sehingga peluang melahirkan semakin besar. Karena resiko melahirkan hanya terjadi pada wanita, maka umur yang diperhitungkan adalah umur wanita pada saat perkawinan pertamanya.

Gambar 2. Wanita 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin

Menurut Umur Perkawinan Pertama di Kota Balikpapan, Tahun 2009

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Perkawinan pertama lebih banyak dilakukan pada kelompok umur diatas 19 tahun. Hal ini sesuai dengan program penurunan fertilitas yang dicanangkan pemerintah dengan menentukan umur (20-25) tahun sesuai umur ideal untuk melaksanakan perkawinan. Bila dilihat polanya tampak bahwa proposi penduduk yang melangsungkan perkawinan pertamanya pada umur 16 tahun atau kurang sekitar 10,71 persen dari seluruh penduduk wanita usia 10 tahun ke atas yang pernah kawin.

Proporsi terbesar perkawinan pertama adalah pada kelompok umur diatas 19-24 tahun yang mencapai 50,38 persen. Sedangkan proporsi penduduk yang melangsungkan perkawinan pertamanya antara umur 17-18 tahun mencapai 18,82 persen.

Penurunan fertilitas juga banyak dipengaruhi oleh adanya program keluarga Berencana (KB). Usaha yang dilakukan pemerintah dengan membentuk badan khusus yang menangani KB tampaknya cukup berhasil. Fertilitas semakin menurun sehingga laju pertumbuhan penduduk pun bisa ditekan. Hal ini sejalan dengan salah satu konsep beyond family planning yang menyatakan bahwa apabila program KB dikelola dengan baik, fertilitas akan dapat diturunkan.

Tingkat keberhasilan KB biasanya tidak hanya diukur dari penurunan fertilitas yang dicapai tetapi juga dari pencapaian target akseptor. Seseorang dikatakan sebagai akseptor KB adalah apabila ia menggunakan salah satu alat/cara KB dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dan bukan karena alasan lain seperti alasan kesehatan, serta harus mengacu pada masa berlaku atau keefektifan dari masing-masing alat/cara KB tersebut.

Tingkat penggunaan alat KB cukup tinggi, tercatat dari 85.271 wanita pernah kawin berumur 15-49 tahun yang pernah menggunakan alat KB sebanyak 73,77 persen. Sedangkan dari 85.271  wanita usia subur yang pernah memakai alat KB, yang sedang memakai alat KB mencapai 49,90 persen dari seluruh wanita usia subur.

Berdasarkan alat atau cara yang digunakan peserta KB aktif, suntikan KB dan Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan, yang keduanya mencapai 72,92 persen dari seluruh akseptor KB. Walaupun termasuk alat kontrasepsi modern, sebenarnya pil mempunyai risiko kegagalan cukup tinggi dibandingkan alat kontrasepsi modern lainnya. Untuk itu, perlu ada upaya untuk mengubah pandangan masyarakat yang lebih menyukai pil sebagai cara ber-KB dan diarahkan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang lebih efektif. Namun demikian kemudahan mendapatkannya menjadi pendorong banyak wanita usia subur yang memilih memakai alat kontrasepsi ini.

Metode KB selain pil dan suntik yang penggunanya cukup banyak adalah IUD/AKDR. Proporsi pengguna metode ini adalah 15,60 persen. Selanjutnya metode susuk KB/norplan/inplanon/alwalit penggunanya mencapai 1,64 persen, sedangkan metode KB selain keempat metode tersebut diatas tampaknya kurang diminati oleh para akseptor.


Tabel 3.1. Jumlah Persebaran dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Balikpapan, Tahun 2005-2010 (Jiwa)
Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 2010
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Penduduk 500.406 508.120 515.529 526.963 538.525 552.792
Balikpapan Selatan 168.768 173.040 177.133 180.923 183.858 189.039
Balikpapan Timur 49.010 49.665 49.906 51.311 52.611 54.063
Balikpapan Utara 94.184 94.433 96.103 98.541 102.471 105.667
Balikpapan Tengah 104.810 106.184 106.776 108.056 109.754 112.009
Balikpapan Barat 83.634 84.798 85.611 88.132 89.831 92.014
Penyebaran 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Balikpapan Selatan 33,73 34,05 34,36 34,33 34,14 34,20
Balikpapan Timur 9,79 9,77 9,68 9,74 9,77 9,78
Balikpapan Utara 18,82 18,58 18,64 18,70 19,03 19,12
Balikpapan Tengah 20,94 20,90 20,71 20,51 20,38 20,26
Balikpapan Barat 16,71 16,69 16,61 16,72 16,68 16,64
Kepadatan / Km2 994,25 1.009,58 1.024,30 1.047 1.070 1.098
Balikpapan Selatan 3.519 3.608 3.694 3.773 3.834 3.942
Balikpapan Timur 370 375 377 388 398 409
Balikpapan Utara 712 714 727 746 775 799
Balikpapan Tengah 9.467 9.592 9.645 9.761 9.914 10.118
Balikpapan Barat 464 471 475 475 499 511

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.2. Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Uraian Jumlah (Jiwa) Persentase
(1) (2) (3)
Laki-laki 289.100 52,66
Perempuan 263.692 47,34
Jumlah 552.792 100,00
Sex Ratio 111,24
Anak-anak (0-14 th) 159.295 

 

28,82
Dewasa (15-64 th) 377.231 

 

68,24
Tua/Lanjut (³65 th) 16.266 2,94
Jumlah 100,00
Dependency Ratio 46,54

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.3. Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Status Perkawinan dan
Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Status Perkawinan Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Belum Kawin 104.501 40,69 68.693 30,18 175.333 35,60
Kawin 145.875 56,80 139.411 61,25 289.995 58,94
Cerai Hidup 2.182 0,85 5.212 2,29 7.561 1,54
Cerai Mati 4.264 1,66 14. 6,28 19.097 3,89
Jumlah 256.822 100,00 227.610 100,00 484.432 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.4. Wanita 10 tahun ke atas Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Umur Perkawinan Pertama Jumlah Persentase
(1) (2) (3)
£ 16 15.786 10,71
17 – 18 27.741 18,82
19 – 24 74.267 50,38
³ 25 29.617 20,09
Jumlah 147.411 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 3.5. Wanita Pernah Kawin Berumur 15-49 Tahun Menurut Pemanfaatan Alat KB di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Pemanfaatan Alat KB Jumlah Persentase
(1) (3) (3)
Sedang Menggunakan Alat KB 58.022 49,90
Tidak Menggunakan Alat KB Lagi 27.249 23,87
Tidak Pernah Menggunakan Alat KB 30.501 26,23
Jumlah 116.272 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 3.6. Wanita Pernah Kawin Berumur 15-49 Tahun Menurut Cara KB yang Digunakan di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Pemanfaatan Alat KB Jumlah Persentase
(1) (3) (2)
MOW/tubektomi 2.135 3,68
MOP/vasektomi 431 0,74
AKDR/IUD/spiral 9.054 15,60
Suntikan KB 17.478 30,13
Susuk KB/norplan/inplanon/alwalit 951 1,64
Pil KB 24.832 42,79
Kondom/karet KB 1.759 3,03
Cara tradisional 1.382 2,39
Jumlah 58.022 100,00 

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Posted in Kependudukan | Leave a comment

Kondisi Ketenagakerjaan di Kota Balikpapan

6.1              Profil Angkatan Kerja

Definisi mengenai ketenagakerjaan yang dipergunakan dalam publikasi ini adalah definisi baku yang dipakai BPS dimana mengacu kepada konsep  Labour Force Approach (LFA) yang direkomendasikan oleh International Labour Organization (ILO) dengan sedikit penyesuaian dengan kondisi di Indonesia.  Dalam publikasi ini batasan usia kerja yang digunakan adalah adalah 15 tahun keatas.  Karena jenis kegiatan dari kelompok umur ini berbeda-beda, maka secara umum Penduduk Usia Kerja (PUK) tersebut dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Angkatan Kerja (AK) dan Bukan Angkatan Kerja (BAK).

Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang terlibat dalam kegiatan ekonomi yaitu penduduk yang bekerja dan penduduk yang mencari pekerjaan.  Sedangkan yang termasuk Bukan Angkatan Kerja adalah mereka yang mengurus rumah tangga, sekolah dan lainnya (pensiun, penerima transfer/kiriman, penerima deposito/bunga bank, jompo atau alasan lain).  Pengelompokan penduduk berdasarkan kegiatannya yang digunakan dalam analisis ketenagakerjaan seperti terlihat pada diagram berikut ini :

Keadaan angkatan kerja suatu masyarakat secara umum dapat menggambarkan kehidupan sosial masyarakat tersebut. Berdasarkan data angkatan kerja bisa diketahui seberapa besar partisipasi penduduk dalam angkatan kerja, tingkat pengangguran dan tingkat kesempatan kerja. Idealnya, peningkatan jumlah angkatan kerja selaras dengan peningkatan kesempatan kerja sehingga tingkat pengangguran dapat diperkecil.

Bekerja yang dimaksud adalah bekerja yang bertujuan memperoleh penghasilan atau memperoleh pendapatan paling kurang satu jam selama seminggu yang lalu. Sedangkan pencari kerja adalah penduduk yang tidak atau belum bekerja, sedang atau ingin mencari pekerjaan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pencari kerja disini adalah pengangguran terbuka (open unemployment). Sedangkan setengah pengangguran (disguished unemployment atau underemploment) merupakan bagian dari penduduk yang bekerja.

Angkatan kerja dirinci menurut jenis kelamin, menunjukkan perbedaan yang sangat besar antara laki-laki dan perempuan. Angkatan kerja laki-laki sebesar 84,53 persen dari seluruh penduduk usia kerja laki-laki, yang terdiri dari pekerja (79,48%) dan pencari kerja (5,13%). Sedangkan angkatan kerja perempuan hanya 42,14 persen dari seluruh penduduk usia kerja perempuan, yang terdiri dari pekerja (39,41%) dan pencari kerja (2,94%). Hal ini dapat dipahami karena pria umumnya diharapkan sebagai pencari nafkah baik untuk keluarga jika telah menikah ataupun untuk dirinya sendiri bila masih bujangan, sehingga tiada alternatif lain baginya selain harus bekerja.

Sebaliknya, penduduk wanita mendominasi pada kelompok bukan angkatan kerja. Wanita yang termasuk bukan angkatan kerja mencapai 57,86 persen dari seluruh penduduk usia kerja wanita, jauh lebih besar dibanding penduduk pria yang hanya 15,47 persen pada kategori yang sama. Proporsi terbesar wanita berada pada kategori mengurus rumah tangga yang mencapai 48,91 persen, sedangkan yang bersekolah mencapai 7,02 persen dari seluruh penduduk usia kerja wanita.

Partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi oleh faktor demografis yaitu status kawin dan fertilitas. Wanita yang sudah menikah biasanya bergantung pada suaminya sedangkan bagi wanita lajang bila mereka masih muda umumnya masih bergantung pada orang tua. Sedangkan yang telah bercerai mati maupun hidup tidak ada jalan lain bagi mereka untuk menghidupi diri sendiri atau anak-anaknya dengan bekerja. Sedangkan hubungannya dengan fertilitas seringkali ditunjukkan oleh hubungan negatif yaitu semakin tinggi fertilitas (banyak anak) semakin kecil tingkat partisipasi angkatan kerja wanita.

Gambar 6. TPAK Menurut Golongan Umur di Kota Balikpapan,

Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tingkat partisipasi angkatan kerja umumnya rendah untuk usia muda karena faktor pendidikan. Fasilitas pendidikan yang meningkat membuat partisipasi angkatan kerja menurun karena mereka yang berusia muda lebih banyak berpatisipasi di dalam pendidikan. Sedangkan untuk usia tua menurunnya tingkat partisipasi angkatan kerja seringkali disebabkan karena relatif membaiknya perekonomian daerah menyebabkan mereka tidak perlu bekerja untuk nafkah dirinya.

Tercatat partisipasi angkatan kerja pada usia 15-19 tahun dan 60 tahun ke atas merupakan persentase terkecil dibanding kelompok umur lainnya, kemudian naik seiring pertambahan umur dan mencapai puncaknya pada usia 20-29 tahun yaitu mencapai 73,61 persen. Disini terlihat bahwa, pada usia produktif, mereka berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja atau mencari pekerjaan.

6.2              Profil Pekerja

Sejalan dengan keadaan angkatan kerja, profil pekerja baik menurut umur maupun menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan menunjukkan fenomena yang sama. Dominasi pekerja berada pada usia yang sangat produktif dan mayoritas sudah berpendidikan sekolah menengah ke atas.

Dirinci menurut lapangan usaha, jumlah pekerja yang bergerak di sektor service (S) merupakan yang terbanyak dibandingkan sektor lainnya. Proporsi pekerja kelompok sektor (S) mencapai 69,63 persen, sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja pada kelompok ini yaitu perdagangan, restoran, hotel dan jasa-jasa yang seluruhnya mencapai 31,33 persen. Hal ini memperkuat gambaran bahwa Kota Balikpapan adalah kota perdagangan dan jasa-jasa.

Sementara itu, sektor manufacture (M) menyerap tenaga kerja sebanyak 24,15 persen dari seluruh pekerja. Pada kelompok ini, sektor pertambangan dan galian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar, yaitu mencapai  8,91 persen. Sektor pertanian yang merupakan lapangan usaha tradisional hanya menyerap tenaga kerja 6,22 persen. Kondisi lahan yang sempit serta kurang suburnya tanah mempengaruhi sedikitnya pekerja yang terserap pada sektor ini.

Berdasarkan status pekerjaan, peranan sektor informal tampak masih cukup besar dalam menyerap pekerja di Kota Balikpapan. Proporsi pekerja sektor informal mencapai 33,15 persen, lebih kecil dibandingkan dengan pekerja formal yang mencapai 66,85 persen. Pada sektor informal, pekerja terbanyak adalah berusaha sendiri yang mencapai 19,79 persen. Sedangkan pada sektor formal, pekerja terbanyak adalah buruh/karyawan yang mencapai 64,20 persen.

Gambar 7. Pekerja Menurut Lapangan Usaha di Kota Balikpapan,

Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Bila dirinci menurut jenis kelamin, persentase wanita yang bekerja pada sektor informal lebih tinggi daripada persentase pria yang bekerja pada sektor tersebut. Wanita yang bekerja pada sektor informal mencapai 43,53 persen dari seluruh pekerja wanita sedangkan pria hanya mencapai 28,92 persen dari seluruh pekerja pria. Kategori dalam sektor informal yang memiliki perbedaan proporsi cukup besar antara pekerja pria dan pekerja wanita adalah pekerja tidak dibayar. Tercatat pria yang menjadi pekerja tidak dibayar hanya sekitar 0,98 persen dari seluruh pekerja pria. Sedangkan wanita yang menjadi pekerja tidak dibayar mencapai 9,87 persen dari seluruh wanita. Tampaknya kecenderungan pekerja wanita melakukan pekerjaannya hanya sebagai sambilan untuk membantu kepala rumah tangga meningkatkan hasil usahanya relatif masih tinggi. Walau demikian, proporsi wanita yang berusaha sendiri juga cukup tinggi, yaitu mencapai 26,16 persen dari total pekerja wanita.

Pekerja pria lebih banyak diserap oleh sektor formal daripada sektor informal, sekitar 71,08 persen pekerja pria diserap oleh sektor formal. Kategori yang menyerap pekerja pria paling tinggi adalah status buruh/karyawan yang mencapai 68,77 persen. Sementara pekerja wanita yang termasuk buruh/karyawan hanya 53,26 persen. Kategori buruh/karyawan ini merupakan kategori yang menyerap pekerja pria dan wanita paling banyak di antara kategori-kategori lain.

6.3              Produktivitas Pekerja

Tingkat produktivitas biasanya diukur dengan waktu yang dihabiskan untuk bekerja. Dalam hal ini ukuran lama bekerja adalah jumlah jam kerja dalam seminggu. Ukuran ini memang belum memadai karena dalam kondisi tertentu, misalnya pada pekerja yang bersifat informal, waktu yang dihabiskan untuk bekerja relatif lebih lama akan tetapi tidak sebanding dengan penghasilan yang diterimanya. Walaupun demikian, sebagai pendekatan digunakan batasan jam kerja normal tanpa memperhatikan besarnya penghasilan yang diterima.

Batasan jam kerja normal yang sering dipakai adalah 35 jam seminggu. Dengan enam hari kerja, rata-rata jam kerja per-hari adalah 6 jam. Pekerja dengan jam kerja kurang dari 35 jam efektif selama seminggu dikelompokan dalam jam kerja rendah yang berarti produktivitas rendah. Sedangkan jam kerja cukup adalah apabila bekerja 35 jam atau lebih.

6.4              Profil Pencari Kerja

Istilah lain yang lebih banyak dikenal untuk kelompok penduduk yang mencari pekerjaan adalah penganggur. Penduduk yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah penduduk yang berusaha mencari pekerjaan, baik yang pertama kali (artinya belum pernah bekerja sebelumnya). Penduduk yang sudah bekerja tetapi masih mencari pekerjaan tidak dimasukkan dalam kategori ini.

Pada bagian awal telah diuraikan bahwa jumlah penduduk yang mencari pekerjaan diperkirakan sekitar 16 ribu orang atau 4 persen dari total penduduk berumur 15 tahun ke atas. Tingkat pengangguran yang didefinisikan dengan rasio antara jumlah penduduk yang mencari pekerjaan dengan angkatan kerja sekitar 6,35 persen. Angka ini cukup tinggi, kemungkinan salah satu faktor penyebabnya karena posisi Kota Balikpapan yang strategis sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur dan ditunjang dengan kegiatan ekonominya, menjadi daya tarik bagi pendatang dari luar untuk mencari kerja.

Berdasarkan golongan umur, pencari kerja pada kelompok umur 20-29 tahun merupakan proporsi pencari kerja terbesar yaitu mencapai 49,24 persen, diikuti oleh umur 15-19 tahun yang mencapai 25,61 persen dari seluruh pencari kerja. Besarnya proporsi pada kelompok umur di atas dikarenakan umumnya mereka baru lulus dari pendidikan menengah maupun dari pendidikan tinggi.

Dirinci menurut pendidikannya, tingkat kualitas pencari kerja pada umumnya lebih baik dibanding penduduk yang telah bekerja, karena mereka yang termasuk penduduk pencari kerja ini pada umumnya memiliki strata ekonomi yang lebih tinggi dibanding kebanyakan penduduk yang bekerja. Pada tahun 2010, jumlah pencari kerja dengan kategori pendidikan rendah (paling tinggi tamat SD)  20,55 persen dari seluruh pencari kerja. Sementara pendidikan menengah ke atas mencapai 79,45 persen.

Gambar 8. Pencari Kerja Menurut Jenjang Pendidikan

di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 6.1 Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Golongan  

Umur

Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
15 – 19 23.410 11,75 21.961 11,30 45.371 11,53
20 – 29 50.732 25,47 50.815 26,15 101.547 25,79
30 – 39 49.611 24,91 48.053 24,73 97.664 24,83
40 – 49 38.556 19,36 38.055 19,58 76.611 19,47
50 – 59 25.149 12,63 24.856 12,79 50.005 12,71
60 + 11.695 5,87 10.604 5,46 22.299 5,67
Jumlah  

199.153

 

100,00

 

194.344

 

100,00

 

393.497

 

100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 6.2. Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut
Kegiatan Utama di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Kegiatan Utama Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Angkatan Kerja 168.503 84,61 82.304 42,35 250.807 63,74
Bekerja 158.287 79,48 76.590 39,41 234.877 59,69
Mencari Kerja 10.216 5,13 5.714 2,94 15.930 4,05
Bukan Angkatan Kerja 30.650 15,39 112.040 57,65 142.690 36,26
Sekolah 15.056 7,56 13.643 7,02 28.699 7,29
Mengurus Rumah tangga 3.864 1,94 95.054 48,91 98.918 25,14
Lainnya 11.730 5,89 3.343 1,72 15.073 3,83
Jumlah 199.153 100 194.344 100 393.497 100
Tabel 6.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut
Golongan Umur di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Golongan Umur Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Angkatan Kerja TPAK
(1) (2) (3) (4)
15 – 19 45.371 12.958 28,56
20 – 29 101.547 74.749 73,61
30 – 39 97.664 69.566 71,23
40 – 49 76.611 53.045 69,24
50 – 59 50.005 33.073 66,14
60 + 22.299 7.876 35,32
Jumlah 393.497 251.267 63,85

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 6.4. Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Status Pekerjaan Laki-laki Perempuan Jumlah

Jumlah

% Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Formal 112.510 71,08 43.250 56,47 155.761 66,32
Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar 3.656 2,31 2.459 3,21 6.115 2,58
Buruh/karyawan/pegawai 108.854 68.77 40.792 53,26 149.646 64,2
Informal 45.777 28,92 33.340 43,53 79.116 33,68
Berusaha dibantu buruh tdk tetap/buruh tdk bayar 5.730 3,62 2.696 3,52 8.426 3,57
Berusaha sendiri 28.555 18,04 20.036 26,16 48.591 19,79
Pekerja tdk dibayar 1.551 0,98 7.559 9,87 9.111 4,21
Pekerja bebas 9.940 6,28 3.048 3,98 12.989 5,57

Jumlah

158.287 100 76.590 100 234.877 100

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 6.5. Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Lapangan Usaha Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Sektor A (Agriculture) 11.919 7,53 2.474 3,23 14.393 6,13
Pertanian 11.919 7,53 2.474 3,23 14.393 6,13
Sektor M (Manufacture) 48.262 30,49 7.376 9,63 55.638 23,69
Pertambangan dan Penggalian 19.105 12,07 1.287 1,68 20.392 8,68
Industri 9.940 6,28 4.795 6,26 14.735 6,27
Listrik, Gas dan Air Minum 2.026 1,28 444 0,58 2.470 1,05
Bangunan 17.191 10,86 850 1,11 18.041 7,68
Sektor S (Services) 98.106 61,98 66.740 87,14 164.846 70,18
Perdagangan Restoran dan Hotel 37.957 23,98 36.878 48,15 74.835 31,86
Angkutan dan Komunikasi 19.501 12,32 3.117 4,07 22.618 9,63
Bank dan Lembaga Keuangan 11.033 6,97 6.288 8,21 17.321 7,37
Jasa-jasa 25.595 16,17 17.409 22,73 43.004 18,31
Lainnya 4.020 2,54 3.048 3,98 7.068 3,01

Jumlah

158.287 100 76.590 100 234.877 100

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 6.6. Pencari Kerja Menurut Golongan Umur di Kota Balikpapan, tahun 2010

Golongan Umur Jumlah Persentase
(1) (2) (3)
15 – 19 4.137 25,61
20 – 29 7.953 49,24
30 – 39 2.042 12,64
40 – 49 1.019 6,31
50 – 59 502 3,11
60 + 499 3,09
Jumlah 16.152 100,00
Tabel 6.7 Pencari Kerja Menurut Pendidikan yang Ditamatkan di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Jumlah Persen
(1) (2) (3)
Tidak/belum pernah sekolah/tidak tamat SD 1.903 12,03
SD 1.288 8,52
SLTP 2.901 18,83
SLTA 7.759 52,18
DI / DII / DIII/DIV / Universitas 1.228 8,44
Jumlah 16.152 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Posted in Ketenagakerjaan | Leave a comment

Kondisi Kesehatan Penduduk Kota Balikpapan dan Sarana Kesehatannya

KESEHATAN

4.1              Kesehatan Penduduk

Kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh tehadap kualitas sumber daya manusia seseorang. Kesehatan dapat juga dijadikan barometer kesejahteraan seseorang. Tubuh  yang sehat memungkinkan seseorang untuk melakukan segala kegiatan sehingga mencapai hasil yang optimal. Dalam usaha pendayagunaan Sumber Daya Manusia (SDM) secara lebih efektif, peran kesehatan yang mempengaruhi kinerja produktifitas sangat menentukan. Apabila seseorang sedang menderita sesuatu penyakit, maka dapat dipastikan bahwa produktifitas dari orang tersebut akan berkurang/menurun secara signifikan. Dari hasil survei, tercatat beberapa jenis penyakit yang umum diderita oleh penduduk. Dari beberapa jenis penyakit tersebut, yang banyak dikeluhkan adalah penyakit batuk 28,54 persen dan pilek yang diderita oleh 23,49 persen penduduk, penyakit panas 16,48 persen dan penyakit lainnya dikeluhkan oleh sekitar 8,71 persen dari seluruh penduduk Kota Balikpapan.

Selain jenis penyakit yang biasa diderita oleh penduduk, ada beberapa jenis keluhan kesehatan yang walaupun menurut persentase cukup kecil, tetapi dampaknya dapat mempengaruhi tingkat kualitas sumber daya manusia pada akhirnya. Diantara jenis penyakit yang perlu diperhatikan tersebut antara lain sakit kepala berulang, asma, sakit gigi, diare dan sesak napas. Penyakit asma/sesak napas, yang diderita oleh 4,81 persen penduduk, selain merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh masalah kelembaban udara, juga dapat mencerminkan kualitas tempat tinggal penduduk yang mungkin masih jauh dari tempat tinggal yang layak huni. Sedangkan sakit gigi yang mencapai 0,96 persen, sangat dipengaruhi oleh budaya hidup sehat manusianya yang juga berkaitan erat dengan faktor penggunaan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan penyakit diare/buang air terus menerus merupakan cerminan lingkungan/sanitasi yang tidak memenuhi standar kesehatan dan penggunaan fasilitas MCK yang tidak memadai.

4.2              Fasilitas Kesehatan

Untuk meningkatkan derajat kesehatan penduduk, tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai merupakan salah satu faktor utama. Tanpa mengabaikan peranan kualitas pelayanan, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan modern merupakan hal yang sangat perlu untuk diperhatikan. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah rumah sakit dan puskesmas. Pada bagian ini akan dikemukakan keberadaan sarana kesehatan modern dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Rasio rumah sakit terhadap sepuluh ribu penduduk pada tahun 2009 adalah sebesar 0,24, berarti setiap rumah sakit harus menangani lebih dari 42 ribu orang, sedangkan rasio tempat tidur rumah sakit per-sepuluh ribu penduduk hanya 16,55. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya 16,75 hal ini menunjukkan pertambahan penduduk tidak diiringi pertambahan fasilitas kesehatan.

Sarana lain yang cukup berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah puskesmas dan puskesmas pembantu. Puskesmas dan puskesmas pembantu yang berjumlah 38 di Kota Balikpapan memiliki rasio 0,69 per-sepuluh ribu penduduk. Hal ini berarti satu puskesmas harus menangani lebih dari 14,5 ribu penduduk.


Gambar 3. Rasio Puskesmas Per-10.000 Penduduk di Kota Balikpapan, Per Kecamatan Tahun 2009

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Dirinci menurut kecamatan, Balikpapan Timur merupakan kecamatan yang mempunyai rasio puskesmas paling tinggi, yaitu sekitar 1,11 per-sepuluh ribu penduduk. Sedangkan kecamatan dengan rasio terendah adalah Balikpapan Selatan yang hanya mencapai 0,37 per-sepuluh ribu penduduk. Dilihat dari jumlah absolut puskesmas, Balikpapan Barat merupakan kecamatan dengan puskesmas terbanyak, yaitu 9 buah. Sedangkan yang terkecil adalah di Balikpapan Tengah sebanyak 6 buah. Tetapi hal ini, tidak berarti pelayanan kesehatan terhambat, karena akses terhadap rumah sakit relatif lebih mudah dari kecamatan tersebut.

4.3              Tenaga Kesehatan

Selain sarana kesehatan, fasilitas kesehatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah tenaga kesehatan. Tentunya yang dibahas pada bagian ini adalah tenaga kesehatan terdidik, yaitu tenaga dokter.

Rasio jumlah dokter terhadap penduduk meningkat  dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan rasio jumlah dokter terhadap penduduk mencapai 11,21 per-sepuluh ribu penduduk. Berarti setiap dokter umum harus menangani sekitar 891 orang.

4.4              Kesehatan Balita

Keadaan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu gambaran tingkat kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam beberapa hal, indikator yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak merupakan indikator sangat mendasar. Angka kematian bayi maupun kematian ibu sering sekali menjadi ukuran kesejahteraan secara keseluruhan. Terlebih lagi angka kematian bayi merupakan salah satu komponen dalam perhitungan Indek Mutu Hidup (Physical Quality of Life Index).

Salah satu yang berkaitan erat dengan angka kematian bayi dan angka kematian ibu adalah penolong persalinan. Penolong persalinan ini secara garis besar dibagi menjadi tenaga medis dan tenaga non medis. Semakin tinggi proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga medis maka kesehatan bayi dan ibu akan semakin baik.

Menurut penolong persalinan, dari jumlah sekitar 56 ribu balita, 87,46 persen diantaranya lahir dengan pertolongan tenaga medis. Angka ini cukup tinggi untuk ukuran Indonesia karena secara nasional kurang dari 50 persen persalinan yang ditolong oleh tenaga medis terdidik. Dengan angka ini dapat dikatakan bahwa pelayanan kesehatan terutama pada saat persalinan di Kota Balikpapan cukup baik.

Secara rinci dapat dikemukakan bahwa lebih dari separuh persalinan ditolong oleh bidan yaitu 49,52 persen. Sedangkan dokter membantu persalinan 37,90 persen dari seluruh jelahiran balita. Sementara itu, jumlah persalinan oleh tenaga non medis 12,54 persen dari jumlah balita.

Gambar 4. Balita menurut Penolong Kelahiran Pertama

di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam kelanjutan pertumbuhan balita,

adalah pemberian air susu ibu (ASI). Pemberian ASI terutama ASI Eksklusif akan mempengaruhi kualitas dan kelangsungan hidup balita. Sesuai dengan anjuran Departemen Kesehatan bahwa bayi sebaiknya diberi ASI hingga berusia 2 tahun. Sementara bayi hingga minimal berusia 6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa makanan tambahan (ASI Eksklusif).

Tercatat sebanyak 67,78 persen dari seluruh balita yang ada di Kota Balikpapan, disusui selama 0 sampai 23 bulan. Sedangkan balita yang disusui selama 24 bulan lebih sebanyak 25,15 persen.


Tabel 4.1. Penduduk Menurut Keluhan Kesehatan Utama
di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Jenis Keluhan  

Kesehatan

Ada Keluhan Tidak Ada Keluhan
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5)
Panas 78.210 16,48 474.582 83,52
Batuk 122.736 28,54 430.057 71,46
Pilek 105.167 23,49 447.626 76,51
Asma/napas sesak/cepat 6.688 1,22 546.105 98,78
Diare/buang air 6.632 1,21 546.160 98,79
Sakit kepala berulang 15.187 2,82 537.605 97,18
Sakit gigi 5.247 0,96 547.546 99,04
Lainnya 44.291 8,71 508.502 91,29

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 4.2. Jumlah Puskesmas Umum dan Puskesmas Pembantu Menurut Kecamatan di Kota Balikpapan, Tahun 2009
Kecamatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Jumlah Rasio Per-10000 Penduduk
(1) (2) (3) (4) (5)
Balikpapan Selatan 6 1 7 0,37
Balikpapan Timur 4 2 6 1,11
Balikpapan Utara 4 6 10 0,95
Balikpapan Tengah 5 1 6 0,54
Balikpapan Barat 8 1 9 0,98
Jumlah 27 11 38 0,69
Tabel 4.3. Fasilitas Kesehatan dan Jumlah Tenaga Kesehatan
di Kota Balikpapan, Tahun 2001 – 2009

Sarana Kesehatan

2001 2006 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Dokter 141 299 299 575 620
Rumah Sakit 4 9 9 12 13
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu 38 39 39 37 38
Tempat Tidur RS Per 10000 Penduduk 11,8 13,40 12,62 16,75 16,55
Rasio Dokter Per 10000 Penduduk 2,98 5,88 5,67 10,68 11,21

Sumber : DKK Kota Balikpapan

Tabel 4.4. Balita Menurut Lamanya Disusui Dan Jenis Kelamin
di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Lamanya Disusui (Bulan) Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tidak Pernah 2.629 9,03 1.238 4,60 3.867 7,07
0 – 23 18.919 64,98 19.196 71,34 38.115 67,78
24 + 7.567 25,99 6.474 24,06 14.041 25,15
Jumlah 29.115 100,00 26.908 100,00 56.023 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 4.5. Balita Menurut Penolong Kelahiran Pertama
dan Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Penolong Kelahiran Pertama Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Dokter 10.368 35,61 10.981 40,81 21.349 37,90
Bidan 15.384 52,84 12.173 45,24 27.557 49,52
Tenaga Paramedis 12 0,04 16 0,06 28 0,04
Dukun 2.006 6,89 2.424 9,01 4.430 7,81
Famili/Lainnya 1.345 4,62 1.314 4,88 2.659 4,73
Jumlah 29.115 100,00 26.908 100,00 56.023 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Posted in Kesehatan | Leave a comment

Tingkat Pendidikan di Kota Balikpapan

PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup yang dapat pula berarti peningkatan kesejahteraannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin baik kualitas sumber dayanya. Dalam pengertian sehari-hari pendidikan adalah upaya sadar seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, serta memperluas wawasan.

Pada dasarnya pendidikan yang diupayakan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga masyarakat dan keluarga. Secara nasional pendidikan yang menekankan pengembangan sumber daya manusia menjadi tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional. Strategi pembangunan pendidikan dijabarkan melalui empat sendi pokok yaitu pemerataan kesempatan, relevansi pendidikan dengan pembangunan, kualitas pendidikan dan efisiensi pengelolaan.

5.1              Kemampuan Baca Tulis

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan bidang pendidikan adalah tingkat melek huruf yaitu kemampuan baca tulis yang merupakan kemampuan mendasar bagi seseorang untuk mengembangkan wawasannya. Dalam kaitan dengan pendidikan formal, kemampuan baca tulis ini merupakan syarat mutlak untuk mengikuti setiap jenjang pendidikan. Kemampuan baca tulis yang dimaksud adalah kemampuan membaca dan menulis suatu kalimat sederhana dengan suatu huruf.

Dampak pembangunan bidang pendidikan yang ingin dicapai adalah penurunan persentase penduduk yang buta huruf atau semakin meningkatnya persentase penduduk yang melek huruf. Hal ini menggambarkan mutu manusia yang diukur dalam aspek semakin tinggi tingkat melek huruf atau semakin rendah tingkat buta huruf maka semakin tinggi mutu sumber daya manusia.

Persentase penduduk yang melek huruf di Kota Balikpapan sebesar 97,53 persen dari seluruh penduduk berumur 10 tahun ke atas. Hal ini berarti penduduk yang buta huruf hanya sekitar 2,47 persen. Dirinci menurut jenis kelamin, proporsi pria yang dapat baca 97,42 persen pria berumur 10 tahun ke atas mampu membaca dan menulis, yang berarti tingkat buta huruf pada pria adalah hanya sebesar 2,58 persen. Sedangkan angka buta huruf pada wanita yang mencapai 2,34 persen.

Indikator kemajuan lainnya adalah jenjang pendidikan formal tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk. Proporsi tertinggi penduduk 10 tahun ke atas berdasarkan pendidikan tertinggi yang berhasil ditamatkan adalah tamat SLTA yang mencapai sekitar 39,40 persen, sedangkan proporsi penduduk yang menamatkan Perguruan Tinggi sekitar 9,50 persen. Proporsi yang berpendidikan rendah (memiliki ijazah SLTP ke bawah) 51,10 persen. Artinya hampir separuh penduduk sudah berpendidikan menengah ke atas.

5.2              Partisipasi Sekolah

Indikator kemajuan bidang pendidikan lainnya adalah kepedulian penduduk terhadap pentingnya mengikuti pendidikan sebagai upaya memperbaiki kualitas dirinya. Hal ini dapat dilihat dari angka partisipasi sekolah. Angka partisipasi sekolah ini secara umum dibagi menjadi dua, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Angka Partisipasi Kasar disebut juga Gross Enrollment Ratio/GER, Sedangkan Angka Partisipasi Murni dikenal dengan istilah Net Enrollment Ratio/NER.

APK merupakan rasio antara penduduk yang mengikuti jenjang suatu pendidikan terhadap penduduk dalam suatu kelompok umur yang bersesuaian dengan jenjang pendidikan tersebut. Sedangkan APM merupakan rasio penduduk suatu kelompok umur yang sedang mengikuti suatu jenjang pendidikan terhadap seluruh penduduk pada kelompok umur tersebut. Dengan konsep tersebut, APK maksimal akan mungkin menunjukkan angka lebih dari 100 persen. Sedangkan APM maksimal akan menunjukkan angka 100 persen.

APK SD tahun 2010 menunjukkan angka 105,43 persen, sedangkan APM SD hanya mencapai 85,11 persen. Selisih sekitar 20,32 persen antara APK dan APM disebabkan oleh adanya penduduk yang seharusnya tidak bersekolah di SD tetapi sudah/masih bersekolah di SD. Penduduk tersebut terdiri atas penduduk yang seharusnya belum bersekolah di SD atau usianya kurang dari 7 tahun dan penduduk yang seharusnya sudah menyelesaikan pendidikannya di SD atau penduduk yang berusia di atas 12 tahun. Besarnya proporsi ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan anaknya lebih dini atau sebaliknya, terdapat pula orang tua yang terlambat menyekolahkan anaknya.

Sementara itu, untuk angka APK tingkat SLTP tahun 2010 tercatat sebesar 94,68 persen sedangkan APM sebesar 67,37 persen.


Gambar 5. APM dan APK Menurut Jenjang Pendidikan

di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Sementara itu APK dan APM SLTA sebesar 90,41 dan 61,24 persen, sedangkan APK dan APM perguruan tinggi sebesar 13,72 dan 10,82 persen.


Tabel 5.1. Penduduk 10 tahun Ke Atas Menurut Kepandaian Baca Tulis dan Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Dapat Baca Tulis Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Huruf Latin dan Lainnya 171.531 66,79 151.156 66,41 322.687 66,61
Huruf Latin 78.383 30,52 69.376 30,48 147.759 30,50
Huruf Lainnya 1.130 0,44 1.752 0,77 2.882 0,43
Tidak dapat 5.778 2,25 5.326 2,34 11.104 2,34
Jumlah 256.822 100,00 227.610 100,00 484.432 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan


Tabel 5.2. APK dan APM Menurut Jenjang Pendidikan di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Jenjang Pendidikan APK APM
(1) (2) (3)
SD 105,43 85,11
SLTP 94,68 67,37
SLTA 90,41 61,24
PT 13,72 10,82

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 5.3. Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tidak/Belum Pernah Bersekolah 6.959 2,71 3.915 1,72 10.874 2,23
Tidak/Belum Tamat SD 27.043 10,53 29.248 12,85 56.291 11,64
SD/Sederajat 44.276 17,24 48.663 21,38 92.939 19,23
SLTP/Sederajat 45.956 17,89 41.220 18,11 87.176 18,00
SLTA/Sederajat 107.916 42,01 83.237 36,57 191.153 39,40
DI/DII/DIII/DIV/S1/S2/S3 24.672 9,61 21.327 9,37 45.999 9,50

Jumlah

256.822 100,00 227.610 100,00 484.432 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 5.4. Penduduk 5-24 Thn yang Masih Sekolah Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Golongan  

Umur

Laki–laki Perempuan Jumlah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
5 – 6 7.382 11,72 4.191 7,06 11.573 9,47
7 – 12 31.015 49,24 29.389 49,53 60.404 49,35
13 – 15 14.997 23,81 14.024 23,63 29.021 23,73
16 – 18 7.941 12,61 7.841 13,21 15.782 12,91
19 – 24 1.653 2,62 3.892 6,56 5.545 4,54
Jumlah 62.988 100,00 59.337 100,00 122.325 100,00
Tabel 5.5. Persentase Penduduk 5-24 Tahun yang Masih Sekolah Menurut Pendidikan Sedang Dilakukan di Kota Balikpapan, Tahun 2010
Golongan Umur Pendidikan yang Sedang Dilakukan Jumlah
SD SLTP SLTA D1-Univ.
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
5 – 6 100,00 - - - 100,00
7 – 12 87,43 12,57 - - 100,00
13 – 15 3,32 73,24 23,44 - 100,00
16 – 18 - 0,54 93,98 5,48 100,00
19 – 24 - - 5,84 94,16 100,00
Jumlah 55,21 21,06 17,91 5,82 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Tabel 5.6.Persentase  Penduduk 5-24 Tahun Menurut Partisipasi Sekolah dan Golongan Umur di Kota Balikpapan, Tahun 2010

Partisipasi Sekolah Golongan Umur Total
5-6 7-12 13-15 16-18 19-24
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Tidak/Belum Pernah Sekolah 44,68 1,12 - - 0,21 4,42
Masih Sekolah 55,32 97,84 93,03 69,17 10,88 58,65
Tidak Bersekolah Lagi - 1,04 6,97 30,83 88,91 36,93
Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS Kota Balikpapan

Posted in Pendidikan | Leave a comment